23 Juni 2013

Inspirasi yang Meluruhkan Ego



Ketika ditanya mengenai inspirasi apa yang paling kita dapatkan dari jutaan inspirasi yang terdapat dalam salah satu buku dalam seri 100 pengokohan tarbiyah, maka mungkin yang membuatku cukup merenung #dan semoga membuat semua orang merenung juga justru adalah pada bagian awal buku ini, pada halaman pertama isi buku. Tepatnya halaman 4, di situ dikatakan, Islam menghendaki setiap daiyah muslimah tidak sekedar bisa mengajak orang lain, namun mereka tidak boleh melupakan dirinya sendiri. Allah SWT mencela sikap orang yang hanya pandai berdakwah mengajak dan memperingatkan orang lain sementara dirinya sendiri tak emndapatkan perhatian. Seperti yang tertera dalam QS Al Baqarah: 44 “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, apadahal kamu membaca Al-Kitab, apakah kamu tidak berpikir?”. Ayat ini ditujukan kepada Bani Israel yang pandai menyuruh orang lain, tapi enggan melakukannya sendiri, padahal mereka membaca Taurat. Namun, sebagaimana kaidah al-ibrah bi ‘umum al-lafzh la bi khusus as syabab, tentu menjadi peringatan pula bagi setiap daiyah muslimah, agar konsekuen dengan yang diserukannya kepada umat.
            Mungkin ada sebagian yang mengatakan, “aku bukan dai kok, aku hanya wanita biasa”. Mungkin saat itu dia lupa bahwa setidaknya kita semua –para perempuan- akan menjadi pendidik pertama, menjadi dai, untuk anak-anak kita. Nah, ketika sebenarnya kita tau mana yang benar, mana yang harus kita nasihatkan kepada anak kita nantinya, bukankah seharusnya kita pun sudah melakukan hal itu? Jadi sebenarnya kita tidak punya alasan untuk tidak belajar, memperbaiki diri menjadi lebih baik, membentuk karakter diri yang baik, untuk itu lah sebenarnya kita butuh persiapan. Persiapannya seperti apa, dan ilmu-ilmunya seperti apa, akan kita peroleh dari buku ini.
            Yang terakhir –untuk semua perempuan- dalam profesi apa pun kita sekarang, dalam pemikiran seperti apa pun kita saat ini, tak bisa dielakkan, bahwa kita memang dai, setidaknya untuk anak-anak kita. Jadi, mari kita persiapkan.

Yuli Mulyana, inspired Keakhwatan 2 "Cahyadi Takariawan"

18 Juni 2013

Tentang Sebuah Nama



by: Istikomatul Fathonah

Nama adalah sebuah identitas yang mewakili diri kita secara fisik. Seluruh fisik kita, tingkah laku kita, dapat tergambar melalui sebuah nama. Karena itu nama menjadi begitu berharga. Itulah mungkin alasan mengapa Abbas As-Siisiy membahas juga tentang mengingat nama seseorang dalam rangka menyentuh hatinya. Ada orang yang punya tipikal orang yang mudah lupa pada banyak hal baru, terutama nama baru. Kalau mengingat wajah ya bisa, tapi kalau megenai nama, jangan kaget kalau saatberbincang-bincang tiba-tiba nyeletuk “Maaf, tadi namanya siapa ya?”.  Padahal, menurut buku ini, mengingat dan menghafal nama itu sangat penting dalam menjaga hubungan karena disini terjadi interaksi dan lahir pula sifat saling percaya sesama individu. Menghafal nama seseorang juga merupakan salah satu bentuk penghargaan kita terhadap seseorang. Jadi jangan sepelekan lagi tentang sebuah nama (mengingatkan diri sendiri).
Berikut adalah cara mengingat nama ala Abbas As-Siisiy
1.       Tanamkan rasa ingin dan suka menghafal nama orang lain.
2.       Selalu siap untuk mengahafal nama saat berkenalan, entah nama lengkap atau nama panggilannya saja.
3.       Ingat nama panggilan yang disukainya.
4.       Ingat nama orang-orang yang namanya mirip dengan orang yang baru dikenal.
5.       Perhatikan ciri-ciri yang menonjol dari orang tersebut, dan detail berlangsungnya perkenalan
6.       Tulislah nama-nama kenalan anda, lengkap dengan nomor yang bisa dihubungi dan/atau alamat untuk tetap menyambung silaturahim setelah perkenalan.
7.       Saat pertemuan, ingatlah pertemuan-pertemuan sebelumnya,
8.       Perbanyak korelasi dengan juga mengenal teman-teman dari kenalan tadi, maka bertambahlah daftar kenalannya nanti.

15 Juni 2013

Just a Simple Respond Guys


Bismillahirrahmanirrahim...
Alhamdulillah, akhirnya Allah meyakinkan hatiku untuk mulai menggerakkan jemari-jemari ini di atas keyboard laptop. Langsung saja...
Hati. Mendengar, melihat, membaca empat huruf tersebut pasti membuat kita berfikir tentang peran hati. Hati adalah suatu pemberi keputusan. Karena itu mintalah selalu kepada Nya untuk mengistiqomahkan hati kita tetap istiqomah dalam jalan dakwah ini.
Berbicara tentang dakwah, mungkin ada yang merasa berat. Namun jika kita sedikit saja mau belajar, insyaAllah akan dipermudah. Kuncinya adalah hati. Luluhkan hati objek dakwahmu kawan. Bagaimana caranya? Just a simple respond guys. Pertama, ketika berta’aruf ria, ingatlah namanya. Sebab nama adalah identitas, dan seseorang pasti akan merasa berarti ketika orang lain mengenalnya. Kedua, sapa dan bagikan senyummu ke seluruh penjuru bumi... J Ga susah kn?? Cuma modal tampang (yang itupun pinjaman dari Allah), murah banget. Sempetinlah barang nengok 5 detik buat nyapa, biar sang objek merasa nyaman. Apalagi senyum, sekalian resep biar awet muda. Yukk senyum 100.000 volt, agar senyummu bisa menerangi orang sekitarmu. Tanpa sadar, senyummu bisa mengurangi beban orang lain. So, jangan ragu-ragu buat melakukan itu semua. Just it, ingat nama + 5 S. Eits, lebih lengkap lagi kalo ditambah bumbu perhatian. Bikin terharu sang objek dengan ketulusanmu berteman dengannya. Yukk berusaha menjadi “manusia wajib ‘ain”. Sentuh objek dakwahmu tepat di hatinya.
_Karena semua orang ingin dimengerti_

**Brilly, inspired Bagaimana Menyentuh Hati**

Dari Abas Asisi *Semua Tentang Kita...,*



Sebenarnya sangat simple sekali mengenai pertanyaan bagaimana menyentuh hati seseorang. Tapi bila kita pikirkan lebih dalam sulit untuk menjawabnya. Namun, apabila sudah membaca buku Bagaimana Menyentuh Hati Abbas As Sisi akan mendapatkan jawaban dari pertanyaaan diatas.
Ada banyak hal yang dapat kita petik dari setiap peristiwa yang digambarkan di buku tersebut. Misalkan "Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah.. Jadi, hanya dengan senyuman saja itu sudah  suatu berkah tersendiri. Bayangkan apabila di lingkungan UNNES saja, antar sesama muslim tersenyum bila bertemu maka akan terbentuk suasana yang nyaman oleh siapapun yang melihatnya. Sesibuknya kita ataupun se-nggak-mood nya kita sekalipun tetap harus  menampakkan senyuman kita. Toh, senyum  juga tidak membayar. Apa ruginya kita untuk tetap tersenyum di berbagai kondisi yang melanda kita. Ini yang menjadi peer buat kita. Ada kritikan dari teman yang membuat saya tersentak, “kenapa kalian tersenyum seakan-akan kalian tidak ikhlas untuk menunjukkan senyuman kalian. Beda sama tetangga yang apabila saya bertemu mereka, mereka selalu ramah dan senyumannnya tulus seperti tidak ada beban untuk tersenyum”.
Peristiwa kedua, Sebenarnya dakwah sangat mudah. Dakwah ini tidak ada yang menyulitkan bagi siapa saja yang mau berdakwah. Karena kita bertasbih,bertakbir,bertahlil itu suatu sedekah; menyingkirkan duri dijalan itu sedekah;menolong orang tuli atau buta juga sedekah; dan menunjukkan orang yang kebingungan, menolong dengan segera orang yang sangat memerlukan itu juga sedekah. So, tak ada alasan untuk tidak berdakwah.
Ada banyak hal yang meng-inspirasi dari buku tersebut.  Banyak cara untuk menyentuh hati objek dakwah kita. Dengan perilaku kita yang mencerminkan tentang islam insyaAllah objek dakwah kita akan mengikuti kita. Karena hati seseorang apabila sudah merasa nyaman dengan subjek dakwahnya maka akan dengan mudah objek dakwah itu di bentuk. Tetapi peristiwa yang paling menyentuh,mendobrak,hingga meng-jleb-jlebkan hati saya adalah peristiwa saat menghafal nama objek dakwah kita, sehingga mereka merasa terkesan saat pertama kali bertemu dengan kita tetapi kita sudah mengenal mereka walau hanya nama saja. Karena menghafal nama seseorang sangat sulit buat saja. Tetapi itu tantangan baru yang harus bisa saya taklukkan.

Ini ceritaku.. ^_^                                                                                 By: Aprilia_matematika

11 Juni 2013

Dan Begitulah Seharusnya...,


Dakwah identik dengan seorang Da’i yang memiliki misi untuk membuat orang lain yang ada disekelilingnya itu melakukan kebaikan. Tidak mungkin pemilik hati yang sarat cinta dan keimanan, pada saat yang sama ia adalah seorang yang berhati gersang, kasar, serta menyimpan rasa dengki dan kebencian kepada orang lain. Oleh karena itu, seorang da’i seharusnya dapat memfungsikan hatinya agar cinta dan keimanan yang ada dalam dirinya itu terpancarkan pada mad’u-mad’unya.
Dalam melakukan tugas dakwah, seorang da’i layaknya sebagai pusat pembangkit “Tenaga” yang mengalirkan kekuatan kepada setiap hati orang-orang muslim (sasaran dakwahnya) agar energi itu senantiasa dapat menjadikan sebuah sinaran yang dapat menerangi.
Seorang da’i seperti layaknya seorang pengajar dan seorang dokter, dimana tugasnya seorang pengajar yang harus mengahayati hati dan memahami pola pemikiran dari anak didiknya dan membimbingnya agar anak didiknya berhasil. Begitupun tugas seorang dokter yang berusaha untuk menghapuskan dan menghilangkan penderitaan pasiennya dengan penyakit yang diderita si pasien tersebut, dengan sebuah kata-kata bijak yang penuh dengan keyakinan, yang dapat menenangkan hati pasiennya tersebut dan tentunya memberikan obat yang sesuai bagi pasiennya tersebut.
Seperti itulah baiknya seorang da’i yang menyebarkan dakwah kepada orang disekelilingnya yang dapat memberikan ketenangan bagi yang melihatnya dan mendengarkan apa yang diucapkannya. Karena jika hati yang dimana berperan sebagai penggerak itu dapat difungsikan dengan baik, maka ia akan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat atau lingkungan sekitarnya. Dengan perasaan dan kasih sayang yang diiringi dengan kelemah lembutan dan kesabaran itu yang akan menyentuh hati bagi orang-orang yang ada disekelilingnya. Seperti yang dikatakan dalam firman Allah SWT dalam QS. Ali Imron:159, yaitu
"Maka disebabkan rahmat dan Allah-lab kamu berlaku lemah lembut terbadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berbati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu." (Al-Imran: 159)
Dalam berdakwah, kita tidak hanya berkoar-koar saja dan mengajak orang lain untuk berbuat yang baik, tapi disana adanya terapan ukhuwah agar sasaran dakwah kita merasa diperhatikan dan merasa ada yang mempedulikannya. Dimana adanya saling mengenal, memahami tolong menolong dan saling menanggung beban tanpa melihat status sosialatau lainnya.
Berdakwah dengan menggunakan hati akan membuat sesuatu yang tidak kita sangka akan terjadi. Karena disana yang bekerja tidak hanya mulut yang banyak mengeluarkan kata-kata manis, tapi itu berasal dari hati yang penuh dengan cinta dan keimanan. Rasulullah pun dahulu ketika berdakwah, beliau selalu menggunakannya dengan diiringi rasa cinta kasih dan kesabaran, walaupun orang-orang yang ada disekelilingnya itu tidak menyukai dakwahnya Rasulullah, tapi beliau sangat lembut memperlakukan musuhnya. Bahkan Rasulullah sebelum meninggalnya, beliau setiap paginya selalu menyuapi kakek tua buta yang setiap hari mencela Rasulullah, tapi Rasulullah dengan penuh kelembutan, cinta dan kesabaran dalam menyuapi kakek tua tersebut yang akhirnya membuat kakek tersebut merasa kehilangan dan tersentuh hatinya saat diketahui bahwa yang selama itu menyuapinya adalah Muhammad yang selalu ia cela setiap harinya. Atas perlakuan Rasulullah kepada kakek tua tersebut, membuat kakek tua itu mengucapkan syahadat dan masuk islam. Seperti itulah dakwahnya Rasulullah yang selalu beliau iringi dengan hati yang tulus, penuh dengan cinta, kelembutan dan kesabaran. Bahkan beliau lebih banyak memuji orang lain yang beliau temui, demi untuk mengakrabkan walaupun itu adalah orang kafir Quraisy.

Oleh karena itu, pandai berbicara saja atau penampilan yang menarik saja itu tidak cukup dalam melakukan aktivitas dakwah, tapi harus diiringi dengan kelembutan hati, keimanan yang kuat dan pemahaman yang syamil. Dimana da’i harus mengetahui bagaimana menyentuh hati orang-orang yang ada disekelilingnya (sasaran dakwah).

-Rina Mulyaningsih-

10 Juni 2013

Magnet Hati


"Ia seperti pohon yang tidak berbuah, hidup tapi seperti mati. Ia tidak punya pengaruh dalam kehidupan karena hanya dapat mengambil tetapi tidak dapat memberi. Ia adalah orang yang telah kehilangan dirinya. Berbeda halnya dengan sejumlah orang yang bukan nabi juga bukan syuhada tetapi keudukannya disisi Allah membuat para nabi dan para syuhada iri. Merekalah yang dapat menyingkap rahasia Allah dalam dirinya. Membangkitkan dan 'memeranginya' dengan ibadah dan ketaatan dari dalam jiwa dan hatinya muncul luapan gelombang yang mampu mengharu biru hati manusia sehingga menjadikannya lunak di hadapan Allah.Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata namun kita dapat merasakan kebahagiaan. Menjadi magnet yang dapat menarik ruh dan hati."
Peran kita sebagai seorang da'i/da'iyah bagaimana kita dapat menemukan magnet itu dalam diri kita lalu mengasahnya. Magnet kebaikan akan menimbulkan medan yang tentunya baik juga. Dan pada akhirnya akan menjadi energi kebaikan yang dahsyat.

Selamat pagi :)

-Yasmin Zahera-

9 Juni 2013

Menyemai Biji, Mencabut Rumput itulah Cinta Karena-Nya


Cinta karena Allah adalah pembuka hati
Namun sayang, kadang ia-nya terhambat oleh perilaku yang tak semestinya
Cinta karena Allah dan persaudaraan karena-Nya bukan hanya sarana pelampiasan perasaan semata
Juga bukan sekedar menghabiskan waktu untuk berbincang asyik tiada guna
Hingga lupa tentang kewajiban dan tanggungjawabnya
Padahal bagi mereka waktu adalah kehidupan yang bisa membawa dirinya menuju surga-Nya
Bukan, bukan semua itu...
Persaudaraan karena-Nya adalah curahan perasaan untuk berjuang
Berjuang untuk membantu saudaranya meningkatkan potensi diri secara bersama-sama
Dengan tarbiyah dan takwiniyah.. menyemai biji, mencabut rumput...
Menyemai biji-biji kebaikan... mencabut rumput-rumput yang mengganggu tumbuhnya biji kebaikan...
Dorongan semangat dan hasrat juga penyebaran dakwah melalui persaudaraan yang tulus, ibadah yang khusyuk, serta kontinuitas dalam menyampaikan dakwah dengan cara yang baik itulah pupuk penyuburnya
Tak ada derajat cinta kerana Allah yang lebih agung daripada cinta yang dapat memunculkan keagungan dakwah, membangun kerangkanya,
dan menegakkan daulah Islam di dunia.
***
Inspired by “Bagaimana Menyentuh Hati” karya Abbas As-siisi

                                                        Niken W. Harena

5 Juni 2013

ADAB AL-ISTI’DZAN


Tujuan Instruksional

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 
1. Komitmen dengan adab meminta izin
2. Memahami bahwa meminta izin adalah bagian dari suluk tandzhimi
3. Membiasakan meminta izin dalam segala hal

Meminta izin sekilas tampaknya sepele, padahal sangat penting pengaruhnya bagi kedisiplinan, keteraturan, kejelasan kabar dan informasi dsb. Hal itu sangat diperlukan dalam kehidupan berjamaah, agar kegiatan dakwah dapat berjalan dengan lancar, terevaluasi dan efektif. 


Meminta izin dalam Islam
Islam sebagai dien yang lengkap dan sempurna tentunya tidak akan alpa mengatur sekecil apapun urusan hidup dan kehidupan manusia. Hal itu telah jelas diatur dan dijamin oleh pemiliknya, yaitu Allah SWT. Dari urusan yang paling ringan sampai kepada urusan yang paling berat sekalipun (menurut ukuran manusia), semuanya diatur di dalam Islam, termasuk juga dalam masalah izin dan perizinan.
Allah SWT di dalam Kitab Nya yang suci, telah mengatur masalah ini, baik sebagai etika dalam hubungan sosial kemasyarakatan seperti :
o Etika meminta izin: 24:27, 24:28, 24:58, 24:59, 33:53 
o Lafaz dan cara meminta izin: 24:61 
o Meminta izin untuk menghindari pandangan (yang dilarang): 24:58 
o Meminta izin di hotel dan tempat-tempat umum: 24:29 
o Meminta izin ketika akan keluar: 24:62 
Sampai kepada hal yang terkait dengan urusan yang sulit, seperti dalam hal peperangan, jihad atau kerja besar lainnya, QS. at-Taubah : 44-45, 83; an-Nuur : 62-63 
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." QS. 24:27

"Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " QS. 24:28

Bagaimana para sahabat ra. Memberikan contoh tentang masalah ini?
Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: "Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan, maka masuklah kamu, dan apabila tidak diizinkan, maka pulanglah kamu" (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Sahal bin Sa'ad ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya minta izin itu dijadikan ketentuan karena untuk menjaga pandangan mata." (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Kildah bin Hanbal ra., ia berkata: "Saya datang ke rumah Nabi saw. Dan langsung masuk tanpa mengcapkan salam, kemudian Nabi saw. Bersabda: "Kembalilah, dan ucapkanlah: "Assalaamu'alaikum, bolehkan saya masuk?"
(HR.Abu Dawud dan Turmudzi, dan dia berkata hadits ini hasan)

Kita perhatikan taujih robbani tentang masalah ini :
Ibnu Ishak meriwayatkan tentang asbabun nuzul 'sebab turunnya' ayat-ayat ini. Disebutkan bahwa setelah orang-orang Quraisy dan sekutu-sekutu mereka (al ahzab) berhimpun dan menggalang kekuatan di perang Khandaq (parit), dan setelah Rasulullah mendengar mereka akan melakukan serangan,…atas ide seorang sahabat 'Salman Al Farisi' … maka Rosulullah menyuruh untuk menggali parit di sekitar Madinah. Rasulullah pun ikut terlibat langsung dalam penggalian itu untuk memberikan contoh dan menyemangati kaum mu'minin untuk mendapatkan pahala. Maka orang-orang yang beriman ikut serta bersama Rasulullah dan berlomba-berlomba.
Namun ada beberapa orang munafik yang setengah-setengah dan terlambat datang bersama Rasulullah dan kaum mu'minin dalam membuat parit itu. Mereka hanya ikut terlibat dengan sekedarnya dan pekerjaan yang sangat kecil/ringan. Kemudian mereka mencari-cari celah untuk pergi ke rumah-rumah mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah dan juga tanpa izinnya.

Sementara itu orang-orang yang beriman bila ada hajat yang harus ditunaikan, dia menyebutkan hajat itu di hadapan Rasulullah dan meminta izin untuk menunaikan hajatnya tersebut. Maka Rasulullah pun memberikannya izin. Bila dia selsai menunaikan hajatnya, maka diapun segera kembali menerusakan pekerjaan mengali parit, karena ingin mendapatkan pahala dan mengharapkan kebaikan. Allah pun menurunkan ayat kepada orang-orang beriman itu, sebagaiman ditulis pada surat An Nuur : 62.
"Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Allah berfirman kepada orang-orang munafik yang mencari-cari celah untuk pergi ke rumah-rumah mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah dan juga tanpa izinnya. Hal ini dapat dilihat dari ayat 63-nya :
"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."
Apapun sebab turunnya ayat-ayat ini, ia tetap mengandung adab-adab mental yang mengatur komunitas orang-orang yang beriman dengan pemimpin mereka. Urusan komunitas orang-orang yang beriman tidak akan pernah beres sebelum adab-adab ini melekat dalam perasaan-perasaan, kecenderungan-kecenderungan mereka, dan lubuk-lubuk hati mereka yang paling dalam. Kemudian adab-adab itu juga harus bersemayam dalam kehidupan komunitas orang-orang yang beriman, sehingga menjadi panutan dan aturan yang dipatuhi. Bila tidak tercipta, maka yang akan terjadi adlah kekacauan yang tiada terhingga.

Dalam ayat 62 tadi dikatakan bahwa, bukanlah orang beriman, orang-orang yang hanya berkata dengan mulut mereka, namun tidak membuktikannya dengan tanda-tanda kesejatian perkataan mereka dan mereka tidak taat kepada Allah dan Rasulullah.
"… apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya…"
Urusan bersama adlah urusan yang sangat penting, yang membutuhkan keikutsertaan semua komponen dalam jamaah, untuk mengatasi sebuah pandangan atau peperangan atau pekerjaan umum yang dilakukan bersama-sama. Orang-orang yang beriman tidak akan pergi meninggalkannya sampai mereka meminta izin kepada pemimpin mereka. Sehingga urusan tidak menjadi kacau tanpa kestabilan dan keorganisasian.

Orang-orang yang beriman dengan iman seperti ini dan berperilaku dengan adab seperti ini, tidak akan pernah minta izin kecuali untuk sebuah urusan yang sangat darurat dan penting. Mereka memiliki daya selektivitas dan pencegahan dari iman dan adab mereka yang menjaga mereka dari bersikap berpaling dari urusan bersama itu yang telah mengusik hati semua jamaah dan mengharuskan mereka sepakat atas semua keputusan bersama. Bersama dengan ini, alqur'an tetap meletakkan hak memberi izin atau tidak, kepada pendapat Rasulullah sebagai pemimpin jamaah. Hal itu dianugerahkan kepada Rasulullah setelah setiap individu diberi hak yang sama dalam meminta izin.
"… maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka…"
(Rasulullah telah disalahkan oleh Allah karena memberi izin kepada orang-orang munafik sebelumnya, maka Allah berfirman kepada beliau dalam surah at-Taubah ayat 43, 
"Semoga Allah mema'afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?"

Allah memberikan hak penuh kepada pandangan Rasulullah. Bila beliau ingin mengizinkan, maka hak beliau untuk mengizinkannya. Dan, bila beliau tidak ingin memberikan izin, juga merupakan hak hak beliau. Allah menghilangkan perasaan bersalah dari Rasulullah karena tidak memberikan, walaupun kadangkala di sana ada kebutuhan yang sangat mendesak. Jadi kebebasan sepenuhnya diberikan kepada pemimpin dalam menimbang antara maslahat orang tetap berada di tempat tugasnya dan maslahat bila dia pergi meninggalkannya. Seorang pemimpin diberikan keleluasaan untuk menentukan keputusan dalam masalah kepemimpinan ini sesuai dengan pandangannya.
Dari sini tersirat bahwa keputusan untuk meninggalkan kepentingan darurat itu; dan tidak pergi meninggalkan tugas itulah yang paling utama. Meminta izin dan pergi meninggalkan tugas dalam kondisi itu merupakan kesalahan yang kemudian membuat nabi SAW harus memohon ampunan bagi orang-orang yang memiliki uzur.
"…dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Dengan permohonan ampunan itu, ia mengikat hati orang-orang yang beriman. Sehingga, mereka tidak berusaha meminta izin walaupun punya pilihan untuk itu, karena mereka mampu menguasai uzur yang mendorongnya untuk meminta izin.
Kemudian Allah memperingatkan orang-orang munafik dari sikap mencari-cari celah dan pergi meninggalkan Rasulullahtanpa izin, dengan berlindung kepada sebagian teman mereka yang lain dan saling menyembunyikan diri. Mereka harus yakin bahwa mata Allah selalu mengintai mereka, walaupun mata Rasulullah tidak melihat mereka.
"…Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya)…"

Ungkapan itu menggambarkan tentang upaya melepaskan diri dan mencari-cari celah dari perhatian majelis. Di situ jelas tergambar ketakutan mereka untuk berhadapan, serta kehinaan gerakan dan perasaan yang menimpa jiwa-jiwa mereka.
"…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."

Jadi, ternyata meminta izin adalah simbol komunikasi yang efektif, sementara komunikasi adalah alat yang penting dalam bekerja secara kelompok. Kelompok yang membiasakan minta izin terlebih dahulu, menunjukan pribadi dan kelompok yang solid dan memiliki aturan main.
Adab minta izin ini sangat terkait dengan disiplin, sistem, dan aturan jamaah serta ketaatan kepada pemimpin. Jika kita menyepelekan hal 'meminta izin' ini, maka keinginan menjadi jamaah yang solid, sulit untuk diwujudkan. 
Wallahu a'lam.

MARAJI’
1. Al Qur'an al-karim
2. Fiqh Shirah
3. Sikap Mata, Jilid II