Tujuan Instruksional
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Komitmen dengan adab meminta izin
2. Memahami bahwa meminta izin adalah bagian dari suluk tandzhimi
3. Membiasakan meminta izin dalam segala hal
Meminta izin sekilas tampaknya sepele, padahal sangat penting pengaruhnya bagi
kedisiplinan, keteraturan, kejelasan kabar dan informasi dsb. Hal itu sangat
diperlukan dalam kehidupan berjamaah, agar kegiatan dakwah dapat berjalan
dengan lancar, terevaluasi dan efektif.
Meminta izin dalam Islam
Islam sebagai dien yang lengkap dan sempurna tentunya
tidak akan alpa mengatur sekecil apapun urusan hidup dan kehidupan manusia. Hal
itu telah jelas diatur dan dijamin oleh pemiliknya, yaitu Allah SWT. Dari
urusan yang paling ringan sampai kepada urusan yang paling berat sekalipun
(menurut ukuran manusia), semuanya diatur di dalam Islam, termasuk juga dalam
masalah izin dan perizinan.
Allah SWT di dalam Kitab Nya yang suci, telah mengatur
masalah ini, baik sebagai etika dalam hubungan sosial kemasyarakatan seperti :
o Etika meminta izin: 24:27, 24:28, 24:58, 24:59, 33:53
o Lafaz dan cara meminta izin: 24:61
o Meminta izin untuk menghindari pandangan (yang
dilarang): 24:58
o Meminta izin di hotel dan tempat-tempat umum: 24:29
o Meminta izin ketika akan keluar: 24:62
Sampai kepada hal yang terkait dengan urusan yang sulit,
seperti dalam hal peperangan, jihad atau kerja besar lainnya, QS. at-Taubah :
44-45, 83; an-Nuur : 62-63
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada
penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu)
ingat." QS. 24:27
"Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka
janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu:
"Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " QS. 24:28
Bagaimana para sahabat ra. Memberikan contoh tentang
masalah ini?
Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda:
"Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan, maka masuklah kamu,
dan apabila tidak diizinkan, maka pulanglah kamu" (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Sahal bin Sa'ad ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: "Sesungguhnya minta izin itu dijadikan ketentuan karena untuk
menjaga pandangan mata." (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Kildah bin Hanbal ra., ia berkata: "Saya datang
ke rumah Nabi saw. Dan langsung masuk tanpa mengcapkan salam, kemudian Nabi
saw. Bersabda: "Kembalilah, dan ucapkanlah: "Assalaamu'alaikum,
bolehkan saya masuk?"
(HR.Abu Dawud dan Turmudzi, dan dia berkata hadits ini
hasan)
Kita perhatikan taujih robbani tentang masalah ini :
Ibnu Ishak meriwayatkan tentang asbabun nuzul 'sebab
turunnya' ayat-ayat ini. Disebutkan bahwa setelah orang-orang Quraisy dan
sekutu-sekutu mereka (al ahzab) berhimpun dan menggalang kekuatan di perang
Khandaq (parit), dan setelah Rasulullah mendengar mereka akan melakukan
serangan,…atas ide seorang sahabat 'Salman Al Farisi' … maka Rosulullah
menyuruh untuk menggali parit di sekitar Madinah. Rasulullah pun ikut terlibat
langsung dalam penggalian itu untuk memberikan contoh dan menyemangati kaum mu'minin
untuk mendapatkan pahala. Maka orang-orang yang beriman ikut serta bersama
Rasulullah dan berlomba-berlomba.
Namun ada beberapa orang munafik yang setengah-setengah
dan terlambat datang bersama Rasulullah dan kaum mu'minin dalam membuat parit
itu. Mereka hanya ikut terlibat dengan sekedarnya dan pekerjaan yang sangat
kecil/ringan. Kemudian mereka mencari-cari celah untuk pergi ke rumah-rumah
mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah dan juga tanpa izinnya.
Sementara itu orang-orang yang beriman bila ada hajat yang
harus ditunaikan, dia menyebutkan hajat itu di hadapan Rasulullah dan meminta
izin untuk menunaikan hajatnya tersebut. Maka Rasulullah pun memberikannya
izin. Bila dia selsai menunaikan hajatnya, maka diapun segera kembali
menerusakan pekerjaan mengali parit, karena ingin mendapatkan pahala dan
mengharapkan kebaikan. Allah pun menurunkan ayat kepada orang-orang beriman
itu, sebagaiman ditulis pada surat An Nuur : 62.
"Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada
bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka
tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya
orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin
kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu
kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Allah berfirman kepada orang-orang munafik yang
mencari-cari celah untuk pergi ke rumah-rumah mereka tanpa sepengetahuan
Rasulullah dan juga tanpa izinnya. Hal ini dapat dilihat dari ayat 63-nya :
"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu
seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya
Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu
dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi
perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."
Apapun sebab turunnya ayat-ayat ini, ia tetap mengandung
adab-adab mental yang mengatur komunitas orang-orang yang beriman dengan
pemimpin mereka. Urusan komunitas orang-orang yang beriman tidak akan pernah
beres sebelum adab-adab ini melekat dalam perasaan-perasaan,
kecenderungan-kecenderungan mereka, dan lubuk-lubuk hati mereka yang paling
dalam. Kemudian adab-adab itu juga harus bersemayam dalam kehidupan komunitas
orang-orang yang beriman, sehingga menjadi panutan dan aturan yang dipatuhi.
Bila tidak tercipta, maka yang akan terjadi adlah kekacauan yang tiada
terhingga.
Dalam ayat 62 tadi dikatakan bahwa, bukanlah orang
beriman, orang-orang yang hanya berkata dengan mulut mereka, namun tidak
membuktikannya dengan tanda-tanda kesejatian perkataan mereka dan mereka tidak
taat kepada Allah dan Rasulullah.
"… apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah
dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan
(Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya…"
Urusan bersama adlah urusan yang sangat penting, yang
membutuhkan keikutsertaan semua komponen dalam jamaah, untuk mengatasi sebuah
pandangan atau peperangan atau pekerjaan umum yang dilakukan bersama-sama.
Orang-orang yang beriman tidak akan pergi meninggalkannya sampai mereka meminta
izin kepada pemimpin mereka. Sehingga urusan tidak menjadi kacau tanpa
kestabilan dan keorganisasian.
Orang-orang yang beriman dengan iman seperti ini dan
berperilaku dengan adab seperti ini, tidak akan pernah minta izin kecuali untuk
sebuah urusan yang sangat darurat dan penting. Mereka memiliki daya
selektivitas dan pencegahan dari iman dan adab mereka yang menjaga mereka dari
bersikap berpaling dari urusan bersama itu yang telah mengusik hati semua
jamaah dan mengharuskan mereka sepakat atas semua keputusan bersama. Bersama
dengan ini, alqur'an tetap meletakkan hak memberi izin atau tidak, kepada pendapat
Rasulullah sebagai pemimpin jamaah. Hal itu dianugerahkan kepada Rasulullah
setelah setiap individu diberi hak yang sama dalam meminta izin.
"… maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena
sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara
mereka…"
(Rasulullah telah disalahkan oleh Allah karena memberi
izin kepada orang-orang munafik sebelumnya, maka Allah berfirman kepada beliau
dalam surah at-Taubah ayat 43,
"Semoga Allah mema'afkanmu. Mengapa kamu memberi izin
kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang
yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang
berdusta?"
Allah memberikan hak penuh kepada pandangan Rasulullah.
Bila beliau ingin mengizinkan, maka hak beliau untuk mengizinkannya. Dan, bila
beliau tidak ingin memberikan izin, juga merupakan hak hak beliau. Allah
menghilangkan perasaan bersalah dari Rasulullah karena tidak memberikan,
walaupun kadangkala di sana ada kebutuhan yang sangat mendesak. Jadi kebebasan sepenuhnya
diberikan kepada pemimpin dalam menimbang antara maslahat orang tetap berada di
tempat tugasnya dan maslahat bila dia pergi meninggalkannya. Seorang pemimpin
diberikan keleluasaan untuk menentukan keputusan dalam masalah kepemimpinan ini
sesuai dengan pandangannya.
Dari sini tersirat bahwa keputusan untuk meninggalkan
kepentingan darurat itu; dan tidak pergi meninggalkan tugas itulah yang paling
utama. Meminta izin dan pergi meninggalkan tugas dalam kondisi itu merupakan
kesalahan yang kemudian membuat nabi SAW harus memohon ampunan bagi orang-orang
yang memiliki uzur.
"…dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dengan permohonan ampunan itu, ia mengikat hati
orang-orang yang beriman. Sehingga, mereka tidak berusaha meminta izin walaupun
punya pilihan untuk itu, karena mereka mampu menguasai uzur yang mendorongnya
untuk meminta izin.
Kemudian Allah memperingatkan orang-orang munafik dari
sikap mencari-cari celah dan pergi meninggalkan Rasulullahtanpa izin, dengan
berlindung kepada sebagian teman mereka yang lain dan saling menyembunyikan
diri. Mereka harus yakin bahwa mata Allah selalu mengintai mereka, walaupun
mata Rasulullah tidak melihat mereka.
"…Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang
yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada
kawannya)…"
Ungkapan itu menggambarkan tentang upaya melepaskan diri
dan mencari-cari celah dari perhatian majelis. Di situ jelas tergambar
ketakutan mereka untuk berhadapan, serta kehinaan gerakan dan perasaan yang
menimpa jiwa-jiwa mereka.
"…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah
Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."
Jadi, ternyata meminta izin adalah simbol komunikasi yang
efektif, sementara komunikasi adalah alat yang penting dalam bekerja secara
kelompok. Kelompok yang membiasakan minta izin terlebih dahulu, menunjukan
pribadi dan kelompok yang solid dan memiliki aturan main.
Adab minta izin ini sangat terkait dengan disiplin, sistem,
dan aturan jamaah serta ketaatan kepada pemimpin. Jika kita menyepelekan hal
'meminta izin' ini, maka keinginan menjadi jamaah yang solid, sulit untuk
diwujudkan.
Wallahu a'lam.
MARAJI’
1. Al Qur'an al-karim
2. Fiqh Shirah
3. Sikap Mata, Jilid II